Curah hujan tinggi menyebabkan banjir parah di Kabupaten Karo. Lahan pertanian tergenang, aktivitas warga terganggu, dan ancaman gagal panen semakin nyata bagi para petani.
Kabupaten Karo, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pertanian terbesar di Sumatera Utara, tengah menghadapi banjir parah setelah curah hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir. Air yang datang dari kawasan perbukitan mengalir deras ke lahan pertanian dan permukiman warga, sehingga membuat genangan meluas hingga menghentikan sebagian besar aktivitas masyarakat. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap keberlangsungan hasil panen para slot.
Banjir mulai terjadi sejak malam hari ketika hujan turun tanpa henti dan debit air sungai serta irigasi meningkat drastis. Air kemudian meluap ke area persawahan dan kebun yang berada di dataran rendah. Dalam waktu singkat, ratusan hektar lahan pertanian tergenang air setinggi betis hingga pinggang. Para petani yang biasanya mulai bekerja sejak pagi hanya bisa melihat ladang mereka berubah menjadi hamparan air keruh yang sulit diprediksi kapan akan surut.
Karo memang dikenal memiliki daerah pertanian dengan komoditas utama seperti sayuran, umbi-umbian, jagung, dan buah-buahan khas dataran tinggi. Bagi petani, masa-masa menjelang panen merupakan periode paling krusial. Namun banjir kali ini membuat banyak di antara mereka cemas karena tanaman yang tergenang terlalu lama berpotensi membusuk. Tanaman seperti cabai, tomat, dan kentang sangat sensitif terhadap kondisi air berlebih. Jika genangan bertahan lebih dari beberapa hari, risiko gagal panen meningkat drastis.
Selain ancaman langsung pada tanaman, banjir juga mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur pertanian. Saluran irigasi mengalami penyumbatan akibat lumpur dan batu yang terbawa arus dari daerah perbukitan. Beberapa akses jalan menuju lahan pertanian tidak bisa dilewati karena tertutup material banjir. Kondisi ini membuat petani kesulitan membawa pupuk, obat tanaman, atau melakukan pemantauan langsung terhadap lahan mereka.
Di permukiman warga, banjir menyebabkan aktivitas rumah tangga ikut terganggu. Air masuk ke halaman rumah, merusak perabotan, dan membuat lantai dipenuhi lumpur tebal. Warga yang tinggal di dekat aliran sungai kecil terpaksa mengungsikan sebagian barang penting ke tempat lebih tinggi. Bahkan beberapa keluarga memilih tinggal sementara di rumah kerabat atau posko darurat yang didirikan pemerintah desa.
Pemerintah Kabupaten Karo melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bergerak cepat menanggapi kondisi ini. Tim lapangan dikerahkan untuk meninjau titik-titik terdampak, membantu evakuasi warga yang rumahnya terendam, dan menyalurkan bantuan kebutuhan dasar. Posko darurat menyediakan makanan, air minum, dan selimut untuk keluarga yang terpaksa mengungsi. Tim medis juga bersiaga untuk menangani warga yang mengalami keluhan kesehatan akibat kontak dengan air banjir, seperti penyakit kulit atau demam.
Sementara itu, Dinas Pertanian setempat mulai melakukan pendataan terhadap lahan pertanian yang terdampak. Mereka berencana memberikan bantuan benih dan pupuk bagi petani yang mengalami kerusakan lahan. Namun langkah tersebut masih bergantung pada seberapa cepat air dapat surut dan kondisi tanah kembali memungkinkan untuk ditanami. Petani berharap tindakan ini dapat membantu mereka bangkit agar hasil panen di musim mendatang tidak terganggu terlalu lama.
Keberadaan banjir parah di Karo juga menyoroti persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Banyak warga menyebutkan bahwa banjir tahun ini lebih buruk dibandingkan sebelumnya. Faktor-faktor seperti penggundulan hutan, pembangunan di daerah kemiringan, dan berkurangnya daerah resapan air dianggap memperparah kondisi. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, tanah yang sudah kehilangan vegetasi tidak mampu menahan air, sehingga alirannya langsung menerjang dataran rendah.
Perubahan iklim juga menjadi faktor penting dalam intensitas hujan yang tidak menentu. Curah hujan ekstrem dalam durasi singkat menjadi fenomena yang semakin sering terjadi, sehingga meningkatkan risiko banjir di wilayah yang sebelumnya relatif aman. Para ahli lingkungan mengingatkan bahwa mitigasi jangka panjang perlu dilakukan, mulai dari rehabilitasi lahan hulu, penanaman kembali pohon, hingga perbaikan saluran air dan irigasi.
Hingga sore hari, air di beberapa titik sudah mulai menunjukkan tanda-tanda surut, namun lahan pertanian masih tergenang cukup dalam. Petani diminta untuk tetap siaga dan tidak memasuki lahan yang alirannya belum stabil demi menghindari risiko kecelakaan. Pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan kondisi tanah dan sungai untuk memastikan tidak ada banjir susulan yang dapat memperburuk keadaan.
Situasi ini menjadi pelajaran penting bahwa ketahanan lingkungan harus diperkuat, terutama di wilayah yang bergantung pada sektor pertanian seperti Karo. Dengan adanya koordinasi antara pemerintah, petani, dan masyarakat dalam mengelola sumber daya alam dan infrastruktur pendukung, bencana seperti ini dapat ditangani lebih cepat dan dampaknya dapat diminimalkan.
Meski tantangan cukup berat, semangat warga Karo untuk bangkit tetap tinggi. Para petani saling membantu membersihkan lahan, memperbaiki saluran air, dan mempersiapkan langkah pemulihan. Kebersamaan inilah yang diharapkan mampu mempercepat pemulihan dan membantu Karo keluar dari ancaman gagal panen akibat banjir besar tahun ini.
